A TEXT POST

Ah anyway, i’m sorry it’s late. But yeah, happy 23rd hey you :)

A VIDEO

psych2go:

For more posts like these, go visit psych2go

Psych2go features various psychological findings and myths. In the future, psych2go attempts to include sources to posts for the purpose of generating discussions and commentaries. This will give readers a chance to critically examine psychology.

Reblogged from Neurolove.me
A VIDEO

j0hnchoi:

And then there were three presents, and three octopuses

Reblogged from 八面六臂
A VIDEO

adi-fitri:

"Just because we wear the hijab and cover up, does not make us perfect Muslims,"
A comic adaptation from this post by thepiercingstar.
Wallahua’lam.

A PHOTO

so-personal:

everything personal♡

A PHOTO

imandita:

Titanic Syariah

Reblogged from GAjah miRING
A TEXT POST

Sudut Pandang

Ya, saya tahu ini cukup acak ketika mendadak seorang saya yang biasanya mereblogged hal-hal yang berkaitan dengan perasaan dan gambar yang penuh emosi, namun kali ini mendadak menulis hal yang mungkin terkesan berbeda nuansanya. But well, here goes nothing!

Oke, kenapa mendadak menulis hal seperti ini, mungkin karena perasaan yang tergelitik, Mungkin pemicu awalnya karena kemarin saya dari departemen keuangan dan bertanya-tanya mengenai beasiswa LPDP dan dilanjutkan diskusi bebas bersama teman saya miskaty soal agama dan ilmu pengetahuan.

Pertanyaan yang cukup mengena dan berputar di kepala saya semenjak pulang dari LPDP adalah “apa yang bisa saya lakukan sepulangnya saya dari studi saya nanti?” Pertanyaan yang cukup sulit, dan membuat saya berpikir.

Baru-baru ini saya melihat beberapa isu sosial yang cukup menggelitik. Tidak, saya tidak ingin berbicara soal kepemerintahan maupun birokrasi rumit yang dialami teman saya di beacukai terkait peng-klaiman barang untuk keperluan risetnya, tidak. Justru saya sangat tergelitik dengan artikel yang baru saja saya baca terkait isu pendidikan di Indonesia.

Pada artikel tersebut, membahas soal indoktrinisasi masyarakat indonesia dalam sistem pendidikannya. Indoktrinisasi yang paling jelas dan menurut saya nyata adalah soal menggambar gunung kembar. Siapa warga Indonesia yang tidak tahu soal apa yang saya maksud? Sepertinya semua warga Indonesia familiar dengan gambaran gunung kembar, dengan matahari, sawah, rumah, dan burung serta jalan raya dari gunung kembar tersebut. Ah, terlalu panjang untuk dijabarkan soal artikel ini, lengkapnya ada disini.

Intinya, saya tidak membenarkan sudut pandang dalam artikel tersebut namun tidak menolak. Menurut saya, salah jika mengatakan sudut pandang salah karena pada akhirnya, salah dan benar hanyalah suara mayoritas. Tapi yang ingin saya sorot disini ada 2 poin. Terkait akar dan kemerdekaan.

Poin akar. Akar merupakan dasar yang penting dalam segala hal. Seringkali orang lupa soal dasar permasalahan. Banyak kalimat yang mengungkapkan anak-anak adalah generasi penerus. Saya setuju dengan kalimat yang mengatakan soal indoktrinisasi. Mau bagaimana bangsa ini kalau setiap benih yang unik ditumbuhkan dengan cara yang sama? Dipukul rata dengan hal yang dianggap benar oleh masyarakat umum? Mengutip omongan presiden pertama Republik Indonesia “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Sejarah yang saya rujuk disini bukan hanya sejarah Indonesia, tapi dari sejarah dunia seperti Galileo dengan teori heliosentrisnya, dan isu perburuan penyihir wanita di eropa pada abad pertengahan, bahwa suara mayoritas tidak selalu benar.

Hal yang harus diingat, percuma kuantitas banyak tapi tidak diimbangi dengan kualitas. Saya tidak menyalahkan apapun atau siapapun. Dalam agama yang saya anut, diajarkan juga yang membedakan manusia dan hewan adalah akal. Menurut saya, yang dimaksud akal disini adalah logika. Sesuatu yang digunakan manusia untuk berpikir dan menentukan benar dan salah. Akal sendiri tidak sama untuk setiap manusia. Akal itu unik. Tapi kenapa justru benih yang akan menggantikan hutan harus disamakan? Ekosistem dapat terbentuk karena berbagai jenis spesies. Kenapa harus berusaha untuk menyamakan sementara keunikan itulah yang akan mendukung tumbuh dan kembang suatu lingkungan.

Kembalikan ke akar. Apakah tujuan dari pendidikan itu? Disini saya masih bingung dengan tujuan pendidikan Indonesia. Tapi untuk saya, tujuan pendidikan adalah untuk mendidik. Mendidik seseorang dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak paham menjadi paham. Bukan untuk sekedar menciptakan sebuah robot yang hanya bisa mengikuti. Kalau hanya bisa mengikuti tanpa berpikir, apa bedanya dengan hewan yang bertindak tanpa akal? Kalau dibilang siapa yang salah, mungkin saya juga salah disini karena saya belum berbuat apapun. Mungkin tepatnya belum bisa. Tapi kelak saya akan mencoba.

Poin selanjutnya, kemerdekaan. Apa sih arti merdeka? Sudah ada di dasar pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang selalu diucapkan setiap upacara bendera bahwa kita adalah negara yang merdeka. Berdasarkan KBBI, kemerdekaan berarti bebas dari perhambaan, penjajahan, dsb. Apa kalian tahu arti perhambaan? Perhambaan berasal dari kata hamba yang berarti abdi atau budak, Budak disini tidak memilik keinginan yang bebas. Dimana mereka dipaksa mengikuti sebuah sistem dan suara mereka disalahkan. Apa bedanya dengan sistem pendidikan sekarang?

Kembalikan ke akar. Ini adalah kalimat yang sangat saya suka. Apa tujuan pendidikan? Apa dasar negara kita? Hal yang sangat lucu melihat berbagai isu sosial sekarang tapi lupa apa dasar negara kita.

Saya tidak akan menjadi orang-orang yang bisa berkomentar saja, tidak. Saya juga seorang akademisi. Orang yang (seharusnya) terpelajar. Dengan bidang saya yang kebetulan berkiprah di bidang ilmu saraf dan perilaku, bidang yang sangat dekat dengan akal, saya juga berpikir untuk selentingan yang mungkin kedepannya bisa menjadi solusi.

Kalau ditanya apa yang kurang dari masyarakat kita, saya akan menjawab moral. Anak kecil juga tahu kalau tidak boleh mengambil barang orang lain. Bohong itu dosa. Bahkan ada di pendidikan pancasila dan kewarganegaraan yang merupakan kurikulum wajib sekolah dasar. Tapi seiring kenaikan jenjang pendidikan, sadarkah tujuan pendidikan berubah? Begitu memasuki sekolah menengah pertama, hal yang dijelaskan adalah aljabar dan fisika? Fokus utama pendidikan tidak lagi terkait moral melainkan berusaha menguji kecerdasan peserta didik?

Mungkin untuk logika orang dewasa hal ini tidak salah. Tapi satu hal yang orang dewasa itu tidak tahu, mereka tidak semuanya berkiprah di bidang ilmu faal. Tidak semua mengerti bagaimana alam bekerja. Berdasarkan ilmu perkembangan, bagian otak manusia yang mengolah logika baru akan berkembang setelah usia akhir belasan. Bagaimana mau mengajarkan logika kalau memang strukturnya saja belum terbentuk? Hal ini juga menjelaskan mengenai mengapa anak kecil seringkali tidak berpikir rumit.

Justru hal unik dari anak kecil, bagian otak yang tumbuh sebelum bagian frontal korteks (bagian yang mengolah logika) justru adalah bagian sistem limbik atau bagian yang mengolah emosi dan memori. Dari fakta ini bukankah sudah jelas? Anak kecil justru harus diajarkan bagaimana mengolah emosinya? Bagaimana mengontrol hawa nafsunya? Bukan malahan diajarkan logika yang memang belum saatnya.

Menurut saya, tidak bisa disalahkan petinggi petinggi negara. Mereka kan tidak belajar ilmu yang saya pelajari dan saya juga tidak belajar regulasi seperti mereka. Tapi tidak ada salahnya kalau mereka mendengar kan? Mereka itu wakil rakyat loh. Perlu saya jabarkan definisi kata wakil?

Lucu sekali jadinya melihat negara ini. Mungkin saya hanya bisa berkelakar sekarang. Tapi kelak, saya akan melakukan sesuatu. Mungkin ini ambisi saya sebagai bentuk pengabdian saya terhadap negara. Lucu kalau hal ini keluar dari saya, tapi kita tidak bisa memungkiri ikatan darah kan? Dalam tubuh saya mengalir darah kakek saya, seorang pensiunan TNI yang separuh hidupnya dilakukan untuk membela negara. Mungkin saya tidak bisa membela selayaknya kakek saya pada jaman kemerdekaan atau jaman awal kemerdekaan yang ada di buku sejarah. Tapi setidaknya, meskipun berkali-kali dikecewakan oleh sistem negara ini, tidak ada salahnya sedikit membalas budi pada negara ini kan? Tidak harus selamanya berpikir soal uang dan uang terus. Uang tidak dibawa mati, pahala dan ilmu yang bermanfaat iya.

A PHOTO

breakinq:

vertical/photo blog

Reblogged from ♡ you're perfect ♡
A PHOTO

so-personal:

everything personal♡